PANYILEUKAN_ Jam menunjukan pukul 09.45, namun jalanan di Bandung memang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan kapanpun itu dan jalanan itu hari itu harus kulalui. Hari ahad ini ada sebuah acara yang harus kuhadiri, tepatnya di sebuah perumahan Bumi Panyileukan di kediaman teman kami Rosella Nur Falah. Awalnya memang hanya gurauan dan omongan belaka untuk mengadakan sebuah silaturrahim di rumah Sella, begitu biasa di panggil, tetapi ia akhirnya setuju untuk mengadakan sillaturrahim di kediamannya.

Rumah berlantai dua bercat hijau tampak kokoh berdiri disana. Melalui jalan yang berkelok lagi berbatu harus dilalui untuk mencapainya. Walaupun telat hampir 4 jam dari yang dijadwalkan karena tempat yang memang belum semua mengetahui, 15 orang bisa berkumpul dari 17 orang yang rencananya akan hadir.

Adzan berkumandang ketika 15 orang telah berkumpul, kami langsung mengambil air wudlu dan para ikhwan melaksanakan shalat dzuhur berjama’ah diimami oleh Ayah Rosella, Bpk Hero Ridwanto, sedangkan akhwat shalat secara terpisah di lantai dua.

Setelah shalat Dzuhur berjama’ah sebenarnya kami ingin langsung memulai acara, tetapi Sella langsung  mengajak kami untuk makan siang, dari aromanya saja sudah terbayang kelezatannya. Sebuah menu yang sungguh membuat air liur kami meleleh keluar, hidung terangsang, perut mengaung-ngaung minta diisi.

Tak lama waktu makan berselang dengan diiringi lagu karaoke tahun delapan puluh atau sembilan puluhan, yang kamipun tidak tahu siapa penyanyinya dan lagu apa itu, seakan-akan kalau seandainya acara makan itu film, maka film itu berwarna hitam putih. Tanpa disadari piring kami telah bersih dari segala apa yang tersaji di atasnya. Setelah merapikan piring dan gelas kosong, saatnya untuk memulai acara.

Acara perkumpulanpun dimulai…..

Perkumpulan pada waktu itu tidak biasanya, sebuah sound system lengkap yang telah dipersiapkan untuk acara, kami sedikit canggung dan juga kaget karena selama kami mengadakan perkumpulan konsul, kami tidak pernah menggunakan sound system. Pertama, karena memang ini perkumpulan nonformal, kedua, karena memang jumlah kami sedikit sehingga tidak perlu pengeras suara agar yang hadir bisa mendengarkan pembicaraan.

Kami bertambah bingung ketika ayah Rosella menanyakan MC, telunjuk kami saling bergentayangan saling menunjuk untuk beberapa menit, tapi Dzulfikri akhirnya bertindak sebagai MC yang membawakan acara, mengawalinya dengan sambutan dari sang tuan rumah, yaitu Bapak Hero Ridwanto, ayahanda Rosella. Setidaknya ada tiga poin yang dapat kami tangkap dari pembicaraan beliau:

Poin pertama, Beliau mengajak kami memaknai kembali arti kata sillaturrahim dalam hadits Rasulullah:

“Barang siapa yang ingin meluaskan rizkinya dan memperpanjang umurnya agar bersilaturrahim”

Beliau memberikan pertanyaan, silaturrahim yang bagaimana yang dapat meluaskan rizki dan memperpanjang umur itu? Kemudian beliau memberikan jawabannya, dalam bahasa bisnis, silaturrahim mempunyai arti memperluas jaringan komunikasi atau Networking antar pengusaha itu sendiri, sehingga menimbulkan interaksi dan sinergi demi mencapai tujuan yang dikehendaki.

Poin yang kedua, Silaturrahim yang efektif yang tergambar dalam hadits diatas harus mempunyai struktur yang jelas, mempunyai visi dan misi yang jelas, juga mempunyai target yang jelas walaupun sedikit, beliau menambahkan bahwa itu islami. Bukan hanya sekedar mengobrol tidak jelas tanpa tujuan apalagi hanya menjadi ajang mencari kecengan.

Poin yang ketiga, Seorang muslim harus mempunyai cara berfikir yang positif, karena cara berfikir mempengaruhi tindakan, tindakan mempengaruhi kebiasaan, kebiasaan mempengaruhi karakter, dan karakter mempengaruhi nasib. Jadi, cara berfikir dapat mempengaruhi nasib, cara berfikir positif menghasilkan nasib yang positif dan cara berfikir negatif menghasilkan nasib yang negatif.

Beliau menyayangkan begitu banyak para mubaligh-mubaligh yang terus menyebutkan kemiskinan-kemiskinan orang muslim tanpa solusi dan jalan keluar dari keterpurukan itu, sehingga input-input negatif selalu mengisi cara berfikir orang-orang muslim, jadi jangan heran kenapa orang muslim mayoritas identik dengan kemiskinan karena mereka selalu dicekoki cara berfikir yang negatif.

Setidaknya ada sesuatu yang terbesit di dalam benak kami waktu itu, yaitu menjadikan ke. Hal itu pun menjadi bahan pembicaraan yang akhirnya kami sadari, bahwa kami harus membuat hasil dalam setiap perkumpulan yang kami adakan, karena itu islami. Selama ini kami sadar, kami hanya berpangku tangan pada siapa yang mengadakan acara dan tim koordinasi dalam setiap acara yang ingin kami adakan, tanpa adanya peran ketua yang bertanggungjawab atas ini semua. Hal itu pun kami sadari sebagai langkah awal yang harus dibenahi agar komunitas kami ini lebih terorganisir dalam setiap kegiatannya. Mata kami semakin terbuka akan tanggungjawab yang kami emban setelah keluar dari almamater tercinta kami, sebuah misi yang mulia senantiasa melekat pada benak tiap individu alumnusnya.

Sesaat kami terhentak, tertawa, berpikir menanggapi sebuah tuturan kata dari sang ayanhanda menyinggung arti kata pola pikir seorang muslim yang sejatinya berpikir secara positif dalam kesehariannya. Sungguh naas nasib anak muda yang menjadi tumpuan bangsa ini kelak, apabila tidak berpandangan kedepan mengolah kemampuan mereka untuk menyatakan kebenaran dan tidak hanya membenarkan kenyataan.

Pikirpun cukup mendapat santapannya, mata yang terenyuh merespon paras yang kian serius mencerna isi perkataan sang ayahanda akhirnya dapat istirahat pula. Namun kami melihat sang ibunda tuan rumah sedikit mengerut mimiknya, menurut penjelasan sang ayah itu disebabkan makanan yang disiapkan untuk kami tak tersikat habis, tapi salah seorang dari kami sedikit membuat senyum simpul sang ibunda tertarik di penghunjung acara nanti karena menambah makanan lagi, siapa itu, tentunya si lambung sapi? Kau tahu siapa yang kami maksud….

Setelah Ayahanda Rosella mengucapkan salam dan mengembalikan pada MC, acara kedua adalah sambutan dari koordinator konsulat, Zaenal yang tersudut menerima acungan tunjukan para teman-teman untuk menjadi “abah”, sebagai panggilan di komunitas kami untuk yang kami tuakan. Setelah mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada tuan rumah atas jamuannya, Iapun angkat bicara menjelaskan why and what for-nya acara ini secara gamblang kepada ayahanda tentang kegiatan yang selama ini kami jalani bersama. Target yang telah kami capai dan rencana yang akan kami buat,  yang tanpa kami sadari itu terjadi secara spontan dan tak terpikirkan sebelumnya, beliaupun kami perhatikan terlihat mengangguk-angguk mendengar  penjelasan yang apik untuk dikemas menanggapi perkataan sang ayahanda. Sampai menanggapi ke’formal’an acara dengan istilah ‘sersan’(serius tapi santai), memang kalau masalah berbicara pada kalangan yang dituakan, abah memang ahlinya.

Selanjutnya yaitu sesi forum bebas, forum inipun dimulai tanpa kehadiran sang ibunda dan ayahnda tuan rumah, agar lebih sersan katanya. Beliaupun mempersilahkan kami meneruskan acara.

Sejenak kami menarik napas dan menghembuskannya sebagai sebuah respon dan sentakan bermakna tertuju kepada kami tadi. Acara pun dimulai dengan memperkenalkan tiap orang yang hadir dengan memberitahu apa yang sedang terjadi padanya sekarang dan apa yang ia harapkan akan kami amini, semoga apa yang ia harapkan terwujud.

Sedangkan hasil pembahasan kami siang itu adalah:

Pertama, Membentuk dasar-dasar forum perkumpulan kami dengan pemilihan ketua, wakil ketua, struktur organisasi, juga visi dan misinya yang akan diadakan pada hari ahad tanggal 4 Juli 2010 di Yayasan Nur Ummat.

Kedua, Wacana menyelenggarakan Pesantren kilat pada bulan ramadhan, Sanlat dengan kurikulum baru dan format yang lebih efektif, tetapi itu baru wacana dan akan dibahas lebih lanjut pada perkumpulan selanjutnya.

Ketiga, adanya kerjasama dibidang ekonomi, yaitu saling tolong menolong dan simbiosis mutualisme dalam ekonomi.

Akhir dari tulisan ini adalah terimakasih yang sebesar-besarnya kepada teman kami Rosella Nur Fallah yang mau menyempatkan waktu dan tempatnya untuk konsul ini, juga kepada Ayahanda Hero Ridwanto yang telah memberikan banyak ilmu kepada kami terutama ilmu tentang kemandirian dan enterpreuneurship sehingga memberikan kami semangat dan niat untuk mandiri karena memang mayoritas kami belum mandiri dan masih meminta orangtua. Semoga persahabatan ini menjadi persahabatan yang diridhai Allah SWT dan mendapatkan berkahnya seperti halnya persahabatan ashabul kahfi, atau persahabatan para muhajirin dan anshar, aamiin.Sel, Thanks for all, we love you full.